“Lakukanlah itu!”


Minggu lalu, saya tersentak oleh satu kalimat pastor, “Lakukanlah itu!”. Sepotong kalimat dari surat kepada jemaat di Filipi. Sebuah ajakan untuk melakukan apa yang harus saya lakukan sekarang. Bukan sesuatu yang harus saya lakukan karena masa lalu. Bukan sesuatu yang harus saya lakukan untuk masa depan.

Ajakan seperti itu sering kita dengarkan, tapi entah kenapa saya kali ini tersentak. Apa mungkin karena selama ini saya terlalu sering mengingat masa lalu? Saya masih suka mengingat ‘masa jaya’ saat masih SMA, masa penuh kebebasan, euforia, dan intelejensia yang berlimpah ruah. Bukan menyombong, tapi memang saat itu di mana saya punya rambut panjang sampai di bawah bahu (untuk ukuran SMA, berapa banyak sih SMA yang mengijinkan untuk seperti itu?); saat itu juga di mana eksplorasi terhadap ilmu sangat tinggi (kecuali Sosiologi… tidak tahu kenapa saya sangat membenci Sosiologi shg seumur hidup saya dapat nilai merah di bidang itu); mana sih soal matematika & kimia yang nggak bisa saya selesai’in? Ini bukan kesombongan pribadi, tp kesombongan kolektif. Saya punya kelompok belajar yang solid yang masing-masing punya keunggulan sendiri. Saya juga masih suka mengingat masa-masa almarhum bapak yang sering membuat sedih tapi saya suka membiarkan diri saya berlarut dalam kesedihan itu. Atau masa-masa pendekatan ke adek kelas yang nggak pernah berhasil tapi saya nggak pernah malu & menyesal atas itu :p

Saya juga suka membayangkan masa depan. Masa depan di mana saya bisa seperti orang lain. Tinggal di luar negri yang punya musim salju dan merayakan natal seperti orang bule. Atau kuliah di luar negri (ah.. kalau ini memang saya niat). Atau juga kerja di luar negri. Juga mengajak keluarga dan ibu keliling Eropa utk mengunjungi Lourdes dan Roma. Atau cepet-cepet promosi, jadi seorang manajer atau keluar dari pekerjaan sekarang dan menjadi manajer di perusahaan lain.

Tanpa disadari ternyata saya sudah lupa daratan. Saya terkubur di tanah seperti halnya terkubur di masa lalu. Juga melayang karena selalu mendongak ke atas. Ternyata situasi itu membuat saya emosi akan keadaan sekarang, tidak bisa mensyukuri apa yang sekarang saya rasakan, dan pada akhirnya membuat saya tidak bisa melakukan hal yang sekarang harus saya lakukan dengan benar karena orientasinya tidak berpijak, entah tenggelam, atau terbang gak karuan.

Melakukan yang sekarang harus dilakukan (dengan sukacita) adalah indah, dan tanpa disadari itu adalah wujud syukur kita kepada Sang Pencipta, yang menciptakan waktu, dahulu, dan yang akan datang, dan juga YANG SEKARANG. Yang dahulu? Ya, Dia sudah ciptakan. Yang akan datang? Tenanglah, Dia akan sediakan.

Yang Sekarang?

Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.

Malam ini saya bersyukur sekali saya mengenal sahabat saya. Selama ini saya berpikir dia dan sekeluarga bahagia karena banyak hal. Dia salah satu yang karirnya naik paling cepat (dan sekarang saya sudah satu level dengan dia). Dia pernah mendapatkan predikat Best Staff. Atasannya memfasilitasi dia dengan professional certification yang bisa memberinya daya jual. Dan lain-lain dan lain-lain. Sampai saat nya malam tadi saat break malam kami mengobrol tentang liburan. Saya sampaikan saya pengin mengajak keluarga liburan seperti di atas tadi. Entah tiba-tiba dia berucap perlahan, “Wah, kalau aku passport pun belum punya”. Tiba-tiba saya terlintas juga obrolan sebelum makan malam. Yah, dia sekarang ini belum bisa menabung karena keluarga (besar) nya membutuhkan bantuannya sehingga pengeluarannya berlebih. Suatu kondisi yang serupa, tapi ternyata saya (mungkin, rasanya) dalam posisi lebih beruntung. Kenapa saya harus mengeluh? Kenapa dalam obrolan dengan dia pun saya masih mendongak ke atas?

Lakukanlah itu! Bukan suatu perintah untuk melakukan pekerjaan. Tetapi juga suatu ungkapan untuk mensyukuri yang sekarang. Kebun anggur suatu saat akan menghasilkan buah. Asam atau manis tergantung kalau sekarang tidak kita garap dengan benar. Tapi asam atau manis? Biarlah itu nanti tanaman itu yang memilih apa ia akan menghisap pupuk yang kita beri. Tapi apa jadinya kalau kita tidak sekarang memberinya pupuk.

 Yesterday is history, Tomorrow is a mystery, but Today is a gift. That is why it is called The Present..

Akhirnya malam ini saya tutup dengan renungan. Tuhan saya bersyukur kepadaMu. Atas istri yang telaten dan rajin walau memang sedikit agak pemarah. Atas Hayden putri kami yang puinter menyanyi dan berhitung walaupun bandel kalau makan. Atas ibu yang penuh perhatian walau pendiam. Atas Ibu mertua yang bawel tapi rajin. Atas pekerjaan sekarang, kepercayaan, tanggung jawab, fasilitas, dan lain-lain. Atas rumah yang mungil tapi hijau. Atas mobil tua yang kopling  nya enteng walau platinanya suka rusak. Atas tetangga yang nyebelin karena suka parkir di depan pagar. Atas kota Medan yang sebenarnya belum ketauan enaknya di mana. Atas teman-teman dan sahabat. Dan atas semuanya. Ajarlah aku untuk mencintai hari ini. Ajarlah aku untuk mencintai saat ini. Ajarlah aku untuk mencintai apa yang kumiliki sekarang ini.

“Kerja adalah cinta yang mengejawantah dan jika engkau tiada sanggup bekerja dengan cinta, maka lebih baik kau mengambil tempat di depan gapura candi, meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan suka cita…”.

2 responses to this post.

  1. Posted by ma hayden on October 10, 2008 at 7:54 am

    nice write hun..

    kemaren waktu sri yg mbantuin kita ada di rumah kok rasanya aku sempet stress krn merasa dituntut sering2 marah (demi mendisiplinkan si sri..) ..atau sebenernya namanya bukan marah melainkan bawel yah ?

    hmm klo aku bawel brarti sama kaya mama dong :p

    Reply

  2. marah karena harus marah sama memang temperamental ya beda to ma🙂 kalau bawel nah itu kayaknya kodrati deh…. xi xi xi….

    i love you :-*

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: