Not Enough (Section2)


Tidak cukup… Selalu saja tidak cukup dan tidak pernah merasa cukup.

Tadi saya bangun kesiangan sampai istri menelpon bahwa rumah bocor akibat hujan badai pun gak denger. Pas kebangun, tv kamar pas nanyangin infotainment. Lagi-lagi infotainment, acara yang paling saya benci karena kerja’annya cuma ngrusuhi rumah tangga orang. Tapi mata sama telinga saya (tanpa terkejut, krn kok ya tiap hari informasinya itu) tiba-tiba pengin tau apa sih yang terjadi sama Sascha (atau siapa lah itu pokoknya maksudnya itu) dan Paramita DS (DS nya apa ya… Deli Serdang kah?), pasangan yg lagi bermasalah rumah tangganya dan sang suami sudah menjatuhkan talak satu perceraian (bener nggak saya menulis ‘talak’ ?)

Saya tiba-tiba teringat satu kutipan di renungan tentang perceraian di indonesia dari salah satu blog. Satu yang saya tangkap dari kisah-kisah tersebut: “tidak cocok (lagi)”. Suatu alasan yang saya pikir kok bukan pada tempatnya. Ketidakcocokan berawal dari rasa bahwa ada sesuatu yang tidak cukup. Ketidakcukupan bukan karena sesuatu yang kurang, tp juga bisa dari sesuatu yang lebih. Bagaimana suami bisa merasa istri sudah ‘tidak cukup’ lagi? Terlepas dari janji perkawinan dan hukum perkawinan baik di agama masing-masing ataupun negara dan juga sifat biologis dan psikologi perkembangan manusia, tapi itu semua pasti disadari oleh setiap orang.

Sifat Dasar
Sifat dasar yang “merasa tidak cukup” atau “tidak merasa cukup” juga ada pada manusia, tinggal muncul pada tempat yang benar atau tidak. Rasa penolakan atau ketidaksesuaian dengan kondisi yang sekarang dengan sesuatu yang diharapkan (dan dalam tahapan-tahapan tertentu menjadi sebuah idaman, cita-cita, dan target yang harus dicapai dengan sebuah passion / nafsu).

Tidak merasa cukup tidak sepenuhnya juga negatif.  Bagaimana rasa tidak merasa cukup bisa berubah menjadi sesuatu yang positif. Bisa kita transformasikan sikap tersebut misal dalam keilmuan, dalam mendalami sesuatu rasa tersebut perlu ada sehingga eksploitasi kita akan sebuah ilmu tidak akan berhenti. Atau dalam saat menghadapi tugas yang harus diselesaikan dan banyak hal lain termasuk dalam mencintai pasangan anda! Dengarkan lagu Van Halen yang judulnya “Not Enough”. Respon dari “tidak merasa cukup” juga bisa jadi suatu sifat yang resistant (idle, bertahan), atau seperti contoh di atas menjadi sebuah passion atau semangat (positif), atau juga sebuah pelarian (negatif).  

Menjadi Yang Sekarang
Seperti halnya dalam memandang sesuatu di “saat ini, kemarin, dan saat mendatang”. Segala sesuatu harus kita kembalikan ke sekarang. Adalah yang sekarang ini yang ada di depan kita, itu yang menjadi pokok buah syukur kita, bahwa segala yang sekarang ini adalah cukup. Enam hari Tuhan sudah berkarya menciptakan dunia ini adalah menjadi sempurna. Ketidaksempurnaan adalah buah dari rasa ketidakcukupan kita. Jadi syukurilah dan cukuplah demikian adanya. Masih merasa kurang? Ketuklah maka pintu akan dibukakan dan mintalah maka engkau akan diberi. Gusti boten sare.

Dominus Vobiscum

2 responses to this post.

  1. Posted by Gizela on July 6, 2010 at 7:24 am

    Bagiku cerita ini perfect, kita harus mensyukuri segala yang kita dapat, bila belum cukup……harus tetap berusaha, bekerja dan memohon kemudahan dari Tuhan

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: