Menjadi Benar


“Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala! Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!”

Kutipan ini diamil dari Lukas 12:49-53 yang menjadi bacaan renungan harian untuk Kamis, 23 Oktober 2008. Bacaan hari ini mengingatkan kita akan posisi kita sebagai orang Kristen, di mana kita dituntut untuk hidup dan bertindak dengan benar seperti halnya yang dicontohkan Yesus. Apa hidup benar di masa sekarang ini? Salah satunya adalah dengan hidup dan bertindak sesuai dengan konstitusi, undang-undang, atau tatanan hidup yang berlaku, terkait dengan panggilan dan perutusan yang kita terima masing-masing. Dan sering sekali untuk menjadi seorang yang berperilaku benar, kita akan menghadapi banyak tantangan. Dengan orang yang sama-sama merasa benar pun kita akan menghadapi gesekan, apalagi dengan orang yang tidak berkehendak untuk berbuat benar.

Saya ingat salah satu cerita bapak saya, di mana beliau harus ‘dibuang’ ke luar jawa akibat didakwa melakukan korupsi. Padahal hal tersebut adalah dakwaan palsu yang dilontarkan rekan kerja-nya sendiri yang akan melakukan korupsi. Kejahatan tersebut akhirnya terbongkar, tapi bapak sudah terlanjur mutasi ke Kalimantan. Waktu itu kakak saya pertama belum lahir, dan mereka tinggal di rumah dinas yang lokasinya dekat dengan hutan yang masih rawan dan jauh dari pasar bahkan keramaian. Namun buah dari kebaikan selalu manis. Di situ lah pertama kali ibu saya mengandung kakak pertama saya dan kemudian di-mutasi-kan kembali ke Jogja.

Sikap keras bapak dalam bersikap jujur juga tak lepas dari ibu-nya. Bahkan yang membuat saya bangga, salah satu anak buah rekannya pun mengatakan, jika ada sepuluh orang saja yang seperti bapak, perusahaan akan jauh dari korupsi. Bapak memang keras kepala, tapi dalam hal kejujuran. Jujur, jujur, dan jujur. Itu yang diwanti-wanti kepada kami. Bahkan bapak pun tidak pernah berminat untuk memasukkan kami setelah lulus kuliah ke perusahaan tempat dia bekerja walaupun bapak sudah ditawari untuk diberi kemudahan tanpa embel-embel apapun.

Menjadi orang Kristen, tentunya yang berperilaku benar seperti di yang bapak saya contohkan kepada kami. Tidak hanya bapak, masih banyak orang Kristen yang karir nya ‘dicegat’ di lingkungan kerja di mana dia mayoritas. Di lingkungan umum pun kita juga sering mengalami kesulitan dengan atribut kita sebagai orang Kristen. SKB 2 menteri tentang pelaksanaan beribadah dan pendirian tempat beribadah pun terkesan memojokkan sehingga sampai sekarang sering saya dengar gereja yang dipaksa untuk ditutup.

Namun mana boleh kita berhenti. Bagaimanapun itu adalah hak kita sebagai orang Kristen untuk selalu menjadi benar. Tapi bukan membenarkan diri. Marilah kita ‘back to basic’ sebagai “manusia (yang) diciptakan untuk memuji, menghormati serta mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan” (St.Ignatius Loyola. LR no 23). Di mana tujuan kita tak lain adalah selalu berusaha menjadi serupa dengan Allah.

23 Oktober adalah peringatan St.Yohanes dari Capestrano adalah pelindung bagi para Pastor/Perawat Rohani Angkatan Bersenjata. Sesuai dengan namanya kiranya para anggota dan pemimpin Angkatan Bersenjata mengandalkan diri pada aneka macam jenis senjata yang mematikan. Seorang yang bertugas di angkatan bersenjata atau apa pun yang berhubungan dengan alat yang dapat menyakiti dan mematikan orang lain hendaknyalah menggunakan alat / senjatanya itu untuk mempertahankan diri bukan menyerang.

“Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah” (Ef 3:18-19)

Demikian kesaksian Paulus, Rassul Agung,  kepada umat di Efesus. Hendaknyalah kasih menjadi senjata yang utama. Tidak harus menjadi anggota angkatan bersenjata dalam hal ini. Kita pun punya senjata yang bisa menyakiti orang. Kata-kata kita, perbuatan, tindak tanduk, bahkan pikiran. Ingat dan hayatilah betapa lebar, panjang, tinggi dan dalam kasih Allah kepada kita manusia; teruskan dan sebarluaskan kasih Allah tersebut kepada sesama dan saudara-saudari kita. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: