Sekaten Jogja, 2011


Setiap menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW diadakan “pesta rakyat” di alun-alun utara Keraton Jogjakarta.

Perayaan sekaten diantaranya meliputi “Sekaten Sepisan” yakni dibunyikannya dua perangkat gamelan Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur Madu, kemudian pemberian sedekah `Ngarso Dalem` Sri Sultan HB X berupa `udhik-udhik` (menyebar uang) dan kemudian diangkatnya kedua gamelan menuju Masjid Agung Jogjakarta dan ditutup dengan Grebeg.

Kata Sekaten diambil dari pengucapan kalimat “Syahadat”. Istilah Syahadat, yang diucapkan sebagai Syahadatain ini kemudian berangsur- angsur berubah dalam pengucapannya, sehingga menjadi Syakatain dan pada akhirnya menjadi istilah “Sekaten” hingga sekarang.

Puncak acara Sekaten adalah “Grebeg Maulud”, yaitu diusungnya sepasang gunungan berisi pangan keluar dari Masjid Agung setelah sebelumnya didoakan oleh para ulama setempat.  Inilah yang selalu menjadi sasaran wisatawan yang percaya bahwa berebut dan memperoleh sajian pangan dari gunungan Sekaten akan membawa berkah tersendiri dalam hidup serta rezeki dan hasil panen melimpah. Masyarakat Jogjakarta juga percaya bahwa agar mendapat imbalan dari Yang Maha Kuasa, masyarakat harus rela berusaha. Sebagai ” Srono ” (syarat)-nya, mereka harus mengunyah sirih di halaman Masjid Agung, terutama pada hari pertama dimulainya perayaan sekaten. Oleh karenanya, selama diselenggarakan perayaan sekaten itu, banyak orang berjualan sirih dengan ramuannya, nasi gurih bersama lauk-pauknya di halaman Kemandungan,di Alun-alun Utara maupun di depan Masjid Agung Jogjakarta.

Sekaten sebagai pesta rakyat sendiri selain beberapa upacara adat seperti di atas, lebih terlihat sebagai sebuah Pasar Malam. Tidak kurang dari 4 bianglala, 4 rumah hantu, 2 tong stand (atau terpelesetkan sebagai “tong setan”), mobil kereta yang siap mengantar anak-anak berkeliling lokasi pasar malam, juga beberapa arena permainan anak lain di gelar di alun-alun utara ini. Belum termasuk puluhan penjual mainan tradisional seperti mainan truk atau bus dari kayu, kapal othok-othok sampai boneka-boneka cantik ala Barbie. Tiket untuk menikmati permainan dan pertunjukan pun cukup terjangkau, dari 3000 rupiah sampai 5000 rupiah. Hanya saja makanan khas Sekaten yaitu martabak dan bolang-baling saja yang kali ini dijual cukup mahal untuk “harga jajanan Jogja” yang biasa dikenal murah meriah.

Jangan lupa untuk berkunjung ke keraton untuk sekedar duduk sambil menikmati gendhing langgam jawa atau sembari melihat-lihat berbagai artefak-artefak budaya keraton Jogja seperti kereta kencana dan pakaian adat kesepuluh Bregodo (brigade) keraton Jogja.

Sekaten sendiri digelar 1 bulan lebih. Untuk tahun ini sekaten digelar dari tanggal 7 Januari sampai 15 Februari 2011, di mana juga di Jogjakarta baru saja digelar akbar Jogja Java Carnival Desember lalu.  Selama penyelenggaraannya, seluruh wewenang regulasi dan pengelolaan PMPS dipegang oleh Pemerintah Daerah Kotamadya Jogjakarta karena manyangkut pelestarian budaya nasional yang diakui oleh negara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: